KE SEDERHANA
Aku membayangkan kau, gadis diatas 17 yang tidak suka berkabung
Kau hampir putus asa, namun ikhlas mengulang-ulangi membaca
Kepadaku kautulis sebuah pertanyaan sederhana:
Sejak itulah aku belajar
Lalu kutuliskan sesuatu yang bukan puisi
DILEMA
Kesedihan telah bersiap-siap menjatuhiku setelah cinta dan kegembiraan bersama-sama memelukku. Demikianlah suara suling, gender, dan gambang melantunkan kenyataan pahit. Prabu Sutija duduk tak enak di kursi singgasana yang mewah itu. Patih Pancatnyana bersimpuh dengan kepala tertunduk, seperti pening harus menghitung berjuta bintang yang tergambar di karpet merah sitinggil. Tak ada isu politik yang harus dibahas. Hanya ada kegelapan hati yang perlu mendapat masukan cahaya pelita.
“Hei, Patih, jatuhnya lelakon itu tidak memperhitungkan tempat, tidak memandang luhur nistanya budi, apalagi derajat dan pangkat. Apalah artinya menjadi seorang raja yang dicintai oleh seluruh rakyat negri, tapi kenyataannya hatiku sepi? Sudah setahun aku mempersunting Hagnyanawati, dan ketahuilah, Patih: ada sesuatu yang harus kulakukan meskipun aku tahu sesuatu itu sia-sia. Lebih sia-sia dari pepatah kuno ‘menggarami laut”. Seribu cara sudah kucoba, tapi, adakah sesuatu yang bisa kulakukan untuk membuat mata seseorang yang tidak mencintaiku menjadi bercahaya? Perbuatan yang sia-sia itu adalah memenuhi syarat yang diajukan oleh Hagnyanawati. Ia bersedia menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri hanya jika aku bisa membuat jalan yang lurus. Dari Alun-alun Trajutrisna menuju Giyantipura, lurus, tiada berbelok. Padahal, setelah kuukur dan kuperhitungkan. Jalan yang dikehendaki permaisuriku itu memotong itu Pasarean Astana Gadamagana. Padahal, Astana Gadamadana itu adalah makam para leluhur, yang menurunkan trah Mandura, ya termasuk aku ini. Hei, Patih! Ini ada dilema, ibarate suduk gunting tatu loro. Menurut pendapatmu manakah yang lebih penting antara perihal menghormati para leluhur yang sudah bersarang di angin ataukah perihal memenuhi permintaan orang yang kucintai–sebuah usaha–yang oleh hati kecilku sendiri sudah dikatakan akan sia-sia?
OPERASI RINDU
Jika rindu adalah benda berwujud padat,
alangkah mudah mengeluarkan rindu dari tempatnya,
misalnya dengan cara operasi dada bagian dalam.Setelah digiling dan dimasukkan ke dalam botol bening,
dengan mudah pula ia kepadamu memamerkan rindu:
“Lihat, seperti inilah rupa rinduku setelah dihaluskan”
imbuhan “ber”
“Kita berdua pernah berdoa agar kita bisa berdua selama-lamanya.”
“Ah, kini, kupikir bersatu lebih baik daripada berdua,
sebab meskipun dua lebih banyak daripada satu,
namun bersatu lebih kuat daripada berdua.”“‘Satu’ dan ‘dua’ adalah kata bilangan,
dan kau tahu, sejak dulu aku benci matematika.
“Maka marilah kita mencobacoba mengimbuhkan ‘ber’
di setiap jenis kata, barangkali akan ada yang bisa menjadi
kata-kerja-romantis.”
Salah Satu Cara yang Saya Pakai Untuk Mengedit Tulisan Saya SendirI
*
pematang, pematang
ditinggal layang-layang
asa diulur benang
tinggi gunung tak terbilang
nang-benang, nang-benang
panjang bergulung-gulung
asa di puncak gunung
angin dipinta mendukung
yang-layang, yang-layang
terbang berbayang-bayang
pergi ke bintang siang
petang-petang pulang bimbang
(yang di atas itu tentu berbeda sekali dengan yang dibawah ini)
*
Jika rindu adalah benda berwujud padat,
alangkah mudah rindu dikeluarkan dari tempatnya,
misalnya dengan cara operasi dada bagian dalam.
Setelah digiling dan dimasukkan ke dalam botol bening,
dengan mudah pula ia bisa memamerkan rindunya kepadamu:
“Lihat, seperti inilah rupa rinduku setelah dihaluskan”
(tapi saya suka keduanya karena sayalah yang menulisnya. jika ada satu saja yang nanti tidak saya sukai, pasti langsung saya hapus kata atau tanda baca itu. sebab tujuan saya menulis hanyalah agar saya bisa membaca dengan gembira, karena semua kata dan tanda yang tertera hanyalah yang benar-benar saya sukai)
Langganan:
Entri (Atom)
Terimakasih atas kunjungan Anda ke Blog ini. Seabu-abu apapun warna langit yang sedang menaungi saya, semoga hati Anda tetap ceria pada hari ini :)
Salam
Sulis Gingsul
Salam
Sulis Gingsul
*
-
▼
2012
(51)
-
►
Januari
(22)
- UWRF 2012
- PUISI
- LAMPU
- BUNGA
- DHEDHEP TIDHEM PRABAWANING RATRI
- METAFORA
- CAHAYA
- PINTU
- CERITA YANG CUMA ITU-ITU SAJA DAN BENAR-BENAR MEMB...
- Candra dan Abel
- POTONG KUKU
- DAGELAN TIDAK LUCU
- MASA DEPAN SIAPAKAH YANG TAHU?
- GENANGAN
- Karena hujan, aku memakai payung. Anginnya kencang...
- DIKEJAR-KEJAR PUISI
- BACALAH PUISIMU
- SEPASANG PUISI
- MARTHA
- BADUT-BADUT TAMAN RIA
- kreativitas yang Positif Tumbuh Subur di Tanah ya...
-
►
Januari
(22)